Insaf

Mei 21, 2009 at 9:33 am Tinggalkan komentar

Aku menikah ketika umurku masih belia, baru delapan belas tahun. Sebenarnya aku masih ingin sekolah, kuliah, dn bekerja di kantoran. Apa daya, semua hanya impian. Seorang pelaut muda melamarku, dan Ibu memaksaku untuk menerima lamaran itu. Jadilah kami menikah.
Namun ternyata menikah tidak seindah apa yang buku ceritakan, tidak seindah apa yang kubayangkan. Suamiku seorang bartender di sebuah kapal pesiar asing. Dulu waktu melamarku, ia tidak pernah bilang bahwa pekerjaannya di kapal pesiar adalah bartender.
“ Kamu belum tahu Yan, suamimu kan kerja di kapal jadi bartender,“ kata Cici, salah seorang temanku, di suatu sore.
“ Bartender itu apa sih?“
“ Wah, kamu tuh lugu atau bodoh sih?“
“ Iya, aku benar-benar tidak tahu,“ jawabku jujur.
“ Bartender itu pelayan di kafe malam, yang meramu atau meracik minuman keras merk-merk tertentu.“
“ Jadi, suamiku melayani orang-orang yang minum minuman keras?“ tanyaku polos.
“ Ya, begitulah.“
Perkataan Cici membuatku terpukul. Aku tak pernah tahu sama sekali. Suamiku tak pernah mengatakan jenis pekerjaan. Yang kutahu, ia bekerja di kapal pesiar, hanya bisa pulang dalam waktu tertentu dan lama.
“ Aku dengar suamimu sering main perempuan, minum-minum juga,“ tambah Cici.
Perkataan Cici yang terakhir, membuatku lemas dan serasa tak punya tenaga untuk menyangga tubuh.
“ Yan, kamu terlihat pucat. Kamu tidak apa-apa, kan?“
Aku cuma bisa menggeleng. Mataku mulai memanas, sepertinya air mata akan tumpah.
Hari-hari berikutnya setelah pembicaraan dengan Cici, aku mulai bisa tegak berdiri. Kubiarkan cerita hanya karangannya belaka, aku berusaha untuk berbaik sangka pada suamiku.
Setahun berlalu, saat aku sedang mengandung anak pertama, suamiku pulang. Kepulangannya bukan membuat rindu menjadi kebahagiaan. Tetapi sebuah kebencian. Ia pulang bersama dua wanita yang bertampang mirip pelacur. Mereka tidur di kamar kami sementara aku dibentak-bentak seperti pembantu. Uang hasil berlayar pun habis entah kemana. Aku tak bisa lagi menangis. Jika dia tahu aku menangis bisa habis aku dipukuli.
Suamiku bak raja dan aku emban dengan kasta ping rendah. Untuk mengambil sendok jatuh yang ada di dekat kakinya sendiri atau melihat jam yang tergantung persis di belakangnya pun ia harus memanggilku yang sedang memasak di dapur. Jika terlambat datang, makian dan pukulan akan mendarat mnis di tubuhku.
Kadang aku merasa tidak kuat, ingin cerai saja rasanya. Setiap salat, kuadukan semua kepedihannku pada Allah SWT. Semakin sering mengadu, aku semakin merasa kuat untuk bertahan. Bahkan selama puluhan tahun aku harus menghidupi keluarga karena hasil berlayar suamiku tak pernah mampir ke rumah.
Lahawla walakuwwata illabillah, layukallifullahu nafsan illa wushaha. Kedua penggalan ayat itulah yang selalu kuzikirkan untuk menguatkan hati dalam mempertahankan bahtera rumah tangga. Tak mungkin Allah memberikan cobaan ini jika aku tidak mampu melewatinya.
Waktu terus bergulir. Aku bertahan dengan do’a, memohon kekuatan dari Sang Khalik Yang Maha Penyayang hingga empat anakku lahir ke dunia. Tekadku hanya satu, aku harus ikhlas menjalani cobaan ini dan yakin suatu hari nanti ini pasti akan berakhir. Selalu kubingkiskan doa untuk suamiku, tak pernah berhenti dalam setiap munajat dan terjagaku agar suatu saat nanti Allah melembutkan hatinya.
Suatu hari setelah dua puluh tiga tahun pernikahan kami, suamiku memutuskan untuk tidak berlayar lagi. Ia menjadi general manager di sebuah kafe terkenal di Kemang. Ada rasa senang dihatiku, berharap beban biaya hidup selama ini aku tanggung dengan berjualan kue dan pakaian tak lagi kutanggung sendiri. Namun, ada juga kecemasan di hati. Aku khawatir ia akan selalu menyiksaku.
Setelah bekerja di kafe ia tidak terlalu sering menyiksaku dan tidak lagi membawa wanita lain ke rumah. Ia juga sudah mulai menafkhi keluarga. Alhamdulillah, akhirnya Allah mengabulkan pintaku. Tapi kapan suamiku mau melakukan salat dan berubah menjadi muslim yang kaffah ( tidak setengah-setengah)? Mungkinkah hal itu terjadi? Astaghfirullah, aku telah meragukan kuasa Allah. Jika Allah inginkan, sekarang juga suamiku bisa berubah menjadi muslim yang taat. Aku yakin Allah akan mengabulkan doaku meski aku tidak pernah tahu kapan akan terjadi.
Aku semakin giat memohon dalam setiap salat wajib ataupun sunah. Dalam setiap kesempatan, di mana pun, aku selalu memohon kemurahan hati Allah untuk mengubah suamiku.
Dari hasil kerjanya sebagai GM di kafe ia berhasil membeli berbagai perabot rumah yang mewah. Karena di bawah pimpinannya kafe maju pesat, sang bos memberinya mobil.
Namun, sekitar setahun mobil dan barang-barang mewah menghiasi rumah kami, pada bulan puasa tahun 2000, kami kemalingan hebat. Semua perabot hingga mobil habis digasak.
Suamiku jadi shock. Lalu ia pergi satu minggu tidak pulang. Aku mulai waswas, khawatir ia putus asa dan berbuat nekad. Aku hanya bisa berdoa pada Allah agar melindungi dan menguatkan hatinya.
Seminggu setelah menghilang, suamiku kembali. Kami sekeluarga heran karena ia kembali dengan wajah sangat ceria, memakai baju koko cokelat muda dan peci. Seumur hidup baru dua kali aku melihatnya pakai peci, yaitu ketika menikah dan saat itu. Namun, aku tidak berani bertanya karena sejak menikah aku memang tidak pernah berani bertanya.
“ Ma, Papa minta maaf kalau selama ini telah menzalimi Mama.“
Aku terkesiap. Kulihat matanya, ia terlihat tulus mengatakan itu.
“ Mama mau kan memaafkan Papa?“
Kenapa tiba-tiba ia berkata begitu? Pikirku bingung. Aku ingin bertanya banyak hal, tetapi selama ini aku tidak berani bertanya, takut dipukul ataupun dimaki kasar.
“ Selama ini Papa khilaf sehingga menzalimi Mama, memberikan harta haram untuk anak-anak kita. Rupanya Allah tidak rela. Allah sayang sama Mama yang sudah begitu ikhlas mendampingi Papa selama ini.“
Aku terdiam tidak bisa berkata-kata.
“ papa yakin, pencuri-pencuri itu dikirim Allah untuk mengingatkan, agar Papa tidak li memberikan nafkah haram untuk keluarga. Papa malu sama Mama. Sekali lagi maafkan Papa ya?“ pintanya memelas.
Mataku mulai memanas. Aku ingin menangis, tapi, masih takut. Bersandiwarakah dia? Benarkah ini memang suamiku?
“ Kenapa diam saja? Mama tidak mau ya memaafkan? Yah, Papa memang jahat, selama ini selalu menyiksa Mama, tidak memberikan nafkah yang pantas, tidak bertanggung jawab….“Ia terus begitu, merajuk-rajuk memohon maaf.
Akhirnya, kuberanikan diri menyentuh dan berbisik di telinganya.
“ Mama sudah memaafkan Papa jauh sebelum Papa meminta.“
Ia menatap mataku, matanya yang basah terlihat cerah dan bahagia. Ia memelukku dan aku balas memeluk.
Ya Allah, inikah suamiku, yang telah mengabulkan doa-doaku.
Saat ini suamiku telah benar-benar berubah. Kepergiannya dari rumah setelah kejadian pencurian itu, membuat suamiku semakin dekat pada-Nya. Ia semakin dikenal karena kesalehannya. Ia selalu terlihat menangis dalam sujud panjangnya. Kadang kulihat ia sampai terguncang dalam lantunan doa yang mengiris kalbu. Suamiku benar-benar berubah. Dan karena perubahan itu banyak orang yang ingin berguru. Anehnya, orang-orang kini memanggilnya Pak Ustad.
Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat ini. Kau berikan kami kehidupan yang baik di akhir sisa hidup kami dengan empat anak yang saleh dan salehah dan lima cucu yang lucu-lucu. Fabiayyi aalaaa irobbikumaa tuddzibaan…maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Entry filed under: True Stories. Tags: .

Taman Buah Mekarsari Mei Hwa Putri Bunga Yang Cantik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Today Is

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ass. Saudaraku di seluruh dunia, ini adalah blog'Q semoga kita bisa selalu berbagi ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat untuk sekarang dan nanti. Ikhlas bukan sekadar bersih hati bukan berarti pasrah dalam cobaan juga bukan mengikuti arus air karena air yang mrngalir begitu saja belum tentu menuju tempat yang benar Sabar, bisa jadi cara kita berlapang dada atas musibah yang menimpa, dan memahaminya sebagai takdir yang harus dijalani sambil terus berusaha mencari pemecahannya. Ikhlas dan sabar.... Mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan Mungkin kita butuh cermin Untuk bisa ikhlas dan bersabar Cermin-cermin itu ada di sini Dalam Blog'Q, smoga kita bisa menjadi ahli syurga karena keikhlasan & kesabaran.....Amin

Bagaimana ????

Mr WordPress di Hello world!

%d blogger menyukai ini: